Oleh: Asy Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:
Saya adalah seorang pemuda yang ingin bertaubat, kembali ke jalan Allah. Apa yang harus saya lakukan agar bisa menjauh dari perbuatan maksiat?

Jawab:
Bertaubat kepada Allah adalah perkara yang wajib, demikian juga bersegera dalam taubat adalah perkara yang wajib. Tidak boleh mengakhirkan taubat sampai terlambat, karena seseorang tidak tahu kapan maut menjemputnya.

Allah ta’ala berfirman,

{إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ}

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang taubatnya diterima Allah.” (An Nisa: 17)

Dan Nabi SAW bersabda,

(أتبِعِ السَّيِّئة الحسنة تَمحُها)
“Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, dia akan menghapuskan kejelekan itu.” (HR. At Tirmidzi dalam Sunannya [6/204], dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

Mengikuti kebaikan di sini maknanya adalah bersegera, karena termasuk dari adab taubat adalah bersegera dan tidak mengakhirkannya.

Demikian juga jika Anda bertaubat kepada Allah, hendaknya Anda menjauhi sebab-sebab yang dapat menjerumuskan diri Anda ke dalam perbuatan dosa. Jauhilah teman yang jelek, jauhi teman duduk yang jelek, karena merekalah yang menyebabkan Anda terjerumus ke dalam dosa-dosa.

Pergilah Anda kepada orang-orang yang shalih, duduklah bersama mereka, hadirlah di majelis-majelis ilmu, bersegera datang ke masjid, memperbanyak membaca Al Qur’an dan berzikir kepada Allah SWT. Inilah yang sepantasnya diperbuat oleh seseorang yang bertaubat kepada Allah: menjauhi segala sebab kemaksiatan, dan mendekatkan diri dengan perkara-perkara yang baik serta sebab-sebab keta’atan.

Category: | 0 Comments

Di antara karakter waktu adalah ia akan terus berlalu. Ia tidak pernah menunggu siapapun. Rela atau tidak, ia terus berjalan tidak pernah mau menerima alasan ketelatan kita. Karena itu, mereka yang sukses dunia akhirat adalah mereka yang mampu berpacu bersama waktu merenda hari-hari dengan amal shalih.

Sedemikian pentingnya waktu sehingga dikatakan itulah kehidupan manusia yang hakiki. Maka, bagi manusia muslim ada kewajiban terhadap waktu yang selalu ia harus perhatikan. Seorang muslimtidak hanya skedar tahu dan mengerti harus mendarah daging akan pentingnya waktu itu lalu mengisinya dengan penuh kesungguhan.

Berikut beberapa kewajiban seorang muslim terhadap waktu:

Pertama, Menjaga Manfaat Waktu.
Kewajiban utama seorang muslim adalah menjaganya seperti ia menjaga hartanya bahkan lebih dari itu. Selanjutnya ia harus mengambil manfaat dari waktunya untuk kepentingan dunia dan akhiratnya, untuk diri dan ummatnya.

Para salaf adalah manusia yang paling mengerti tentang pentingnya waktu. Hasan al-Bashri pernah berkata, “Aku pernah bertemu dengan kaum yang perhatiannya terhadap waktu lebih besar daripada perhatiannya terhadap harta bendanya”. Karena itu para ulama selalu menjaga kelangsungan waktunya terus menerus. Mereka takut waktu mereka berlalu tanpa faidah dan kerja keras. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata,”Sesungguhnya malam dan siang itu berbuat atas dirimu, maka beramallah pada keduanya”.
Di antara tanda kurangnya kualitas seseorang adalah menyia-nyiakan waktu. Para ulama’ kita mengatakan,”Waktu adalah pedang, bila kamu tidak memakainya dengan baik dan benar ia kan menebasmu”.

Kedua, Mengisi Kekosongan
Waktu luang adalah nikmat yang banyak dilupakan. Kebanyakan orang mengumpamakan waktu luang seperti binatang berbahaya yang harus segera dibunuh dengan senjata kesia-siaan. Rasulullah bersabda, “ Dua nikmat dari Allah yang kebanyakan manusia tertipu; yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”.
Contoh sederhana adalah betapa banyak orang yang meghabiskan waktu luangnya dengan menghabiskannya di depan televisi atau orang yang ngobrol dengan obrolan yang tidak ada ujung pangkalnya.
Dalam hadits shahih disebutkan, Rasulullah bersabda, “Pergunakan lima perkara sebelum datang lima perkara...waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.”
Salafusshalih berkata, “Perhatikan jiwamu, jika Anda tidak menyibukkannya dengan ketaatan, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kemaksiatan”.

Ketiga, Berlomba-lomba Dalam Kebaikan.
Orang beriman mengerti betul pentingnya waktu. Karena itu, ia tidak akan menunda kewajibannya untuk dikerjakan hari esok. Seorang penyair pernah berkata,

“Tak akan kutunda pekerjaanku sampai esok. Sebab si pemalas adalah putra kata ‘besok’ ”

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan ummatnya membaca doa dimana beliau sendiri selalu membacanya:
“Allaahumma inii a’udzu bika minal hammi walhuzni, wa a’uudzu bika minal ‘ajzi walkasal”
Artinya, ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sedih dan duka cita, dan aku berlindung kepadamu dari lemah dan malas.
Allah ta’ala menerangkan kekeliruan ahlul kitab dan terhadap apa-apa yang diturunkan kepada mereka, Dia berfirman, “Kalau Allah menghendaki maka Ia akan menjadikan kalian ummat yang satu. Akan tetapi Ia menguji kalian dengan apa-apa yang diberikan pada kalian. Maka berlomba-lombalah kalian mengerjakan kebaikan.”(Qs. Al-Maaidah).
Ketika Allah menyebutkan fasilitas yang diperoleh penduduk surga dan kenikmatan-kenikmatan yang mereka peroleh, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berlomba-lomba meraihnya. Allah mengatakan, “Tentang hal itu, hendaknya mereka saling berlomba-lomba” (Qs. Al-Muthaffifin: 2).

Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk bersegera menyelesaikan pekerjaannya sebelum datang rintangan-rintangan yang menghalanginya, beliau bersabda, “Apakah kalian menunggu (untuk beramal) sampai datang kekayaan yang menyombongkan atau kemiskinan yang melalaikan, atau penyakit yang membinasakan, atau ketuaan yang melemahkan atau dajjal yang menipu...”(HR. Tirmidzi).

Bencana-bencana Waktu
1. Lalai.
Ini adal;ah penyakit pikiran. Kejadian peristiwa selalu dilihat dari lahirnya saja. Kurang memperhatikan hakikat dibalik kejadian dan sebab utama kejadian. Contoh sederhana, bencana alam yang banyak terjadi selalu ditinjau dari aspek lahiriyah belaka, tidak pernah dilihat dari sisi lain, yaitu hukum kausalitas dalam ajaran Islam bahwa siapa saja yang melenceng dari syari’at Allah pasti ada resikonya yaitu musibah yang mengerikan.
2. Menunda Pekerjaan
Menunda pekerjaan adalah di antara musibah-musibah waktu. “Nanti”, “besok”, “sebentar”, “kapan-kapan” adalah di antara senjata pamungkas para penunda waktu.
Pernah ada seseorang yang meminta nasehat seorang lali-laki shalih dari Bani Abdil Qais, Ia hanya berkata dengan singkat, “waspadalah dari berkata “nanti”. Ada juga yang mengatakan bahwa kata “nanti” adalah salah satu dari tentara iblis.
3. Mencerca Zaman
Di antara penyakit orang lemah adalah senang mencerca zaman. Ini sebenarnya prilaku orang-orang malas. Ketidakberdayaannya dalam melawan kemalasan dibungkus dengan cercaan kepada zaman di mana ia berada. Padahal Rasulullah melarang kita mencela zaman, karena zaman dan kejadian yang terjadi di dalamnya itu adalah ketentuan dari Allah.

Category: | 0 Comments