Profil Forum Mahasiswa Muslim dan Studi Islam (FORMASI)
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

FORMASI adalah salah satu Badan Semi Otonom di Fakultas Ekonomi Manajemen IPB yang memiliki visi misi sebagai berikut:

VISI :
Menjadi Lembaga dakwah yang berperan sebagai Islamic Student Centre Fakultas Ekonomi dan Manajemen dalam hal penyebaran dan pendidikan keislaman, serta amal pelayanan dalam rangka pengembangan insani yang mandiri dan Profesional.
MISI :
1. Pengembangan sumber daya manusia yang berintelektual tinggi dan berakhlak mulia
2. Penyebaran nilai-nilai keislaman yang edukatif, informatif, dan aplikatif
3.  Pendidikan dan kajian keislaman yang integral, kontinu, terpadu, dan Syumuliyatul Islam(Islam secara keseluruhan)
4. Pembangunan Jaringan dan kerja sama dengan pihak terkait baik internal maupun eksternal
5. Pengelolaan organisasi yang mandiri, profesional, dan berdaya saing

Latar Belakang Pembentukan FORMASI
Pembentukan FORMASI dilatarbelakangi oleh:
“Hanyalah orang-orang mu’min yang bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat:10)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda orang yang berakal (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.” (Q.S. Ali Imran: 190-191)

Untuk itu, FORMASI FEM IPB bertujuan menanamkan nilai-nilai keislaman di FEM dalam bentuk penyebaran syiar Islam, wahana silaturahim dalam rangka memepererat ukhuwah Islamiyah, motor penggerak aktivitas keislaman di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, peningkat iman dan takwa kepada Allah SWT, serta pemererat ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah.

Sejarah Singkat
Organisasi ini bernama Forum Mahasiswa Muslim dan Studi Islam Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor yang disingkat sebagai FORMASI FEM IPB. FORMASI FEM IPB berdiri tanggal 14 Februari 2003 / 12 Djulhijjah 1423 H di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. FORMASI FEM IPB bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman di FEM. Fungsi dari organisasi ini adalah menyebarkan syiar Islam, wahana silaturahim dalam rangka memepererat ukhuwah Islamiyah, motor penggerak aktivitas keislaman di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT, mempererat ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah.

Ketua Formasi tahun yang pertama adalah Eko (Formasi 2003-2004), mahasiswa jurusan ekonomi pembangunan angkatan 37. Terbentuknya Formasi digagas oleh beberapa mahasiswa FEM (Ekbang dan Manajemen) angkatan 37 yang pernah menjadi pengurus ROHIS di SMAnya serta didukung dan dibantu oleh Lembaga Dakwah Fakultas MIPA yang memang masih bertempat di kampus IPB Baranangsiang dan sudah mempunyai Lembaga Dakwah Fakultas.
Ketua Formasi selanjutnya adalah Joko MAN’39 (Formasi 2004-2005), Hendri IE’40 (Formasi 2005-2006), Andrijansyah MAN’41 (Formasi 2006-2007) dan Ikhsan AGB’42 (Formasi 2007-2008) serta sekarang Ach. Firman Wahyudi AGB ’43 untuk amanah tahun 2008-2009. Formasi terus melakukan perubahan-perubahan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, organisasi dan meningkatkan kualitas syiar islamnya di FEM khususnya dan di IPB umumnya sesuai dengan visinya sebagai wadah bagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta pemahaman keislaman sehingga tercipta mahasiswa yang berakhlakul karimah dan kehidupan kampus yang islami. Formasi tetap akan terus mengajak pada segala kebaikan dan melarang keburukan yang sesuai pula dengan misinya sebagai motor penggerak aktivitas keislaman di Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor dan semua itu demi terciptanya FEM yang islami yang diridhai ALLAH SWT.

Spesifikasi dan Ciri Khusus FORMASI
Berdasarkan visi misi yang diemban oleh FORMASI, seluruh kegiatan FORMASI diintegrasikan untuk mencapai visi misi FORMASI. Oleh karena itu, seluruh kegiatan-kegiatan FORMASI difokuskan pada dakwah keislaman di Fakultas Ekonomi Manejemen yang ditujukan untuk menciptakan suasana islami di FEM IPB. Beberapa contoh kegiatan FORMASI yang mencirikan dakwah keislaman adalah Pensil (Pentas dan Seni Islami), Kajian Islam Kontemporer, dan GAS (kegiatan Ramadhan).

Selain itu, brand image baru dari FORMASI, ‘Muslim Prestatif’, juga akan ditonjolkan dalam berbagai kegitan-kegitan FORMASI. Hal ini dilakukan sebagai salah satu komponen pencapaian visi misi FORMASI. Muslim Prestatif bermakna para anggota FORMASI secara khususnya dan mahasiswa FEM secara umumnya memiliki kebanggaan sebagai seorang muslim dan juga berprestasi, baik di bidang akademik, kejuaraan, kompetisi, organisasi maupun menulis.

Category: | 0 Comments

Dakwah Kampus adalah dakwah ammah harokatudz dzahiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah yang sifatnya terbuka, berorientasi kepada rekrutmen dakwah di kalangan civitas akademika secara umum, dan aktivitasnya dapat dirasakan oleh civitas akademika. Civitas akademika merupakan bagian dari masyarakat kampus yang hidup dengan peraturan, ada peraturan kampus (rektorat), peraturan ormawa, dan sebagainya. Sehingga untuk dapat mengejewantahkan dakwah tersebut, maka prinsip 'legal', 'formal', dan 'wajar' dalam kacamata civitas akademika, menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh Dakwah Kampus. Salah satu derivasi dari hal ini, maka biasanya sebuah lembaga dakwah kampus perlu membuat AD/ART sebagai bagian dari bentuk legalisasi organisasi dakwah kampus di sebuah perguruan tinggi. Untuk menjalankan roda Dakwah Kampus, maka dibutuhkan personil-personil, yaitu Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Peran ADK ini bisa dijalankan oleh kader dakwah yang bertitel mahasiswa, atau dosen, atau kader dakwah lainnya yang bersinggungan dengan Dakwah Kampus. Mereka harus dapat bergerak bersama-sama dalam koridor strategi dakwah kampus yang bersangkutan.
Tujuan utama dari Dakwah kampus adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan - untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam - menjadi sangat penting.
Untuk mencapai tujuan di atas, ada beberapa sasaran antara yang harus dicapai terlebih dahulu. Sasaran tersebut antara lain : Terbentuknya bi’ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Kita tahu bahwa kampus adalah lingkungan yang heterogen. Ketika berinteraksi di dalamnya, maka butuh kekuatan untuk menjaga idealisme dengan tetap memperhatikan realitas.
Terbentuknya opini ketinggian Islam di kalangan kampus. Oleh karena itu syiar dalam mengkampanyekan kemuliaan Islam harus terus dilakukan secara rutin.Tarbiyah yang berkesinambungan di setiap angkatan mahasiswa harus dipasti kan berjalan. Terbentuknya hubungan timbal balik yang sinergis antara dakwah ammah dengan pengkaderan. Artinya, semua rekrutmen-rekrutmen dakwah diupayakan dapat dilanjutkan dengan proses dakwah secara khusus terhadap orang-orang yang direkrut tersebut.

Category: | 0 Comments

Oleh: Asy Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:
Saya adalah seorang pemuda yang ingin bertaubat, kembali ke jalan Allah. Apa yang harus saya lakukan agar bisa menjauh dari perbuatan maksiat?

Jawab:
Bertaubat kepada Allah adalah perkara yang wajib, demikian juga bersegera dalam taubat adalah perkara yang wajib. Tidak boleh mengakhirkan taubat sampai terlambat, karena seseorang tidak tahu kapan maut menjemputnya.

Allah ta’ala berfirman,

{إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ}

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang taubatnya diterima Allah.” (An Nisa: 17)

Dan Nabi SAW bersabda,

(أتبِعِ السَّيِّئة الحسنة تَمحُها)
“Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, dia akan menghapuskan kejelekan itu.” (HR. At Tirmidzi dalam Sunannya [6/204], dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

Mengikuti kebaikan di sini maknanya adalah bersegera, karena termasuk dari adab taubat adalah bersegera dan tidak mengakhirkannya.

Demikian juga jika Anda bertaubat kepada Allah, hendaknya Anda menjauhi sebab-sebab yang dapat menjerumuskan diri Anda ke dalam perbuatan dosa. Jauhilah teman yang jelek, jauhi teman duduk yang jelek, karena merekalah yang menyebabkan Anda terjerumus ke dalam dosa-dosa.

Pergilah Anda kepada orang-orang yang shalih, duduklah bersama mereka, hadirlah di majelis-majelis ilmu, bersegera datang ke masjid, memperbanyak membaca Al Qur’an dan berzikir kepada Allah SWT. Inilah yang sepantasnya diperbuat oleh seseorang yang bertaubat kepada Allah: menjauhi segala sebab kemaksiatan, dan mendekatkan diri dengan perkara-perkara yang baik serta sebab-sebab keta’atan.

Category: | 0 Comments

Di antara karakter waktu adalah ia akan terus berlalu. Ia tidak pernah menunggu siapapun. Rela atau tidak, ia terus berjalan tidak pernah mau menerima alasan ketelatan kita. Karena itu, mereka yang sukses dunia akhirat adalah mereka yang mampu berpacu bersama waktu merenda hari-hari dengan amal shalih.

Sedemikian pentingnya waktu sehingga dikatakan itulah kehidupan manusia yang hakiki. Maka, bagi manusia muslim ada kewajiban terhadap waktu yang selalu ia harus perhatikan. Seorang muslimtidak hanya skedar tahu dan mengerti harus mendarah daging akan pentingnya waktu itu lalu mengisinya dengan penuh kesungguhan.

Berikut beberapa kewajiban seorang muslim terhadap waktu:

Pertama, Menjaga Manfaat Waktu.
Kewajiban utama seorang muslim adalah menjaganya seperti ia menjaga hartanya bahkan lebih dari itu. Selanjutnya ia harus mengambil manfaat dari waktunya untuk kepentingan dunia dan akhiratnya, untuk diri dan ummatnya.

Para salaf adalah manusia yang paling mengerti tentang pentingnya waktu. Hasan al-Bashri pernah berkata, “Aku pernah bertemu dengan kaum yang perhatiannya terhadap waktu lebih besar daripada perhatiannya terhadap harta bendanya”. Karena itu para ulama selalu menjaga kelangsungan waktunya terus menerus. Mereka takut waktu mereka berlalu tanpa faidah dan kerja keras. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata,”Sesungguhnya malam dan siang itu berbuat atas dirimu, maka beramallah pada keduanya”.
Di antara tanda kurangnya kualitas seseorang adalah menyia-nyiakan waktu. Para ulama’ kita mengatakan,”Waktu adalah pedang, bila kamu tidak memakainya dengan baik dan benar ia kan menebasmu”.

Kedua, Mengisi Kekosongan
Waktu luang adalah nikmat yang banyak dilupakan. Kebanyakan orang mengumpamakan waktu luang seperti binatang berbahaya yang harus segera dibunuh dengan senjata kesia-siaan. Rasulullah bersabda, “ Dua nikmat dari Allah yang kebanyakan manusia tertipu; yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”.
Contoh sederhana adalah betapa banyak orang yang meghabiskan waktu luangnya dengan menghabiskannya di depan televisi atau orang yang ngobrol dengan obrolan yang tidak ada ujung pangkalnya.
Dalam hadits shahih disebutkan, Rasulullah bersabda, “Pergunakan lima perkara sebelum datang lima perkara...waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.”
Salafusshalih berkata, “Perhatikan jiwamu, jika Anda tidak menyibukkannya dengan ketaatan, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kemaksiatan”.

Ketiga, Berlomba-lomba Dalam Kebaikan.
Orang beriman mengerti betul pentingnya waktu. Karena itu, ia tidak akan menunda kewajibannya untuk dikerjakan hari esok. Seorang penyair pernah berkata,

“Tak akan kutunda pekerjaanku sampai esok. Sebab si pemalas adalah putra kata ‘besok’ ”

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganjurkan ummatnya membaca doa dimana beliau sendiri selalu membacanya:
“Allaahumma inii a’udzu bika minal hammi walhuzni, wa a’uudzu bika minal ‘ajzi walkasal”
Artinya, ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sedih dan duka cita, dan aku berlindung kepadamu dari lemah dan malas.
Allah ta’ala menerangkan kekeliruan ahlul kitab dan terhadap apa-apa yang diturunkan kepada mereka, Dia berfirman, “Kalau Allah menghendaki maka Ia akan menjadikan kalian ummat yang satu. Akan tetapi Ia menguji kalian dengan apa-apa yang diberikan pada kalian. Maka berlomba-lombalah kalian mengerjakan kebaikan.”(Qs. Al-Maaidah).
Ketika Allah menyebutkan fasilitas yang diperoleh penduduk surga dan kenikmatan-kenikmatan yang mereka peroleh, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berlomba-lomba meraihnya. Allah mengatakan, “Tentang hal itu, hendaknya mereka saling berlomba-lomba” (Qs. Al-Muthaffifin: 2).

Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk bersegera menyelesaikan pekerjaannya sebelum datang rintangan-rintangan yang menghalanginya, beliau bersabda, “Apakah kalian menunggu (untuk beramal) sampai datang kekayaan yang menyombongkan atau kemiskinan yang melalaikan, atau penyakit yang membinasakan, atau ketuaan yang melemahkan atau dajjal yang menipu...”(HR. Tirmidzi).

Bencana-bencana Waktu
1. Lalai.
Ini adal;ah penyakit pikiran. Kejadian peristiwa selalu dilihat dari lahirnya saja. Kurang memperhatikan hakikat dibalik kejadian dan sebab utama kejadian. Contoh sederhana, bencana alam yang banyak terjadi selalu ditinjau dari aspek lahiriyah belaka, tidak pernah dilihat dari sisi lain, yaitu hukum kausalitas dalam ajaran Islam bahwa siapa saja yang melenceng dari syari’at Allah pasti ada resikonya yaitu musibah yang mengerikan.
2. Menunda Pekerjaan
Menunda pekerjaan adalah di antara musibah-musibah waktu. “Nanti”, “besok”, “sebentar”, “kapan-kapan” adalah di antara senjata pamungkas para penunda waktu.
Pernah ada seseorang yang meminta nasehat seorang lali-laki shalih dari Bani Abdil Qais, Ia hanya berkata dengan singkat, “waspadalah dari berkata “nanti”. Ada juga yang mengatakan bahwa kata “nanti” adalah salah satu dari tentara iblis.
3. Mencerca Zaman
Di antara penyakit orang lemah adalah senang mencerca zaman. Ini sebenarnya prilaku orang-orang malas. Ketidakberdayaannya dalam melawan kemalasan dibungkus dengan cercaan kepada zaman di mana ia berada. Padahal Rasulullah melarang kita mencela zaman, karena zaman dan kejadian yang terjadi di dalamnya itu adalah ketentuan dari Allah.

Category: | 0 Comments